fb
Home    Artikel

200 Euro, 2 Minggu di Eropa, Pertama Kali Naik Pesawat, Hingga Keliling Dunia
25-05-2017 22:30
  
administrator

Terimakasih untuk antusiasme pembaca di cerita saya sebelumnya (Kamu Mahasiswa? Pengen Keliling Dunia ? Ini Caranya !!!), ternyata banyak juga yang ngeshare tulisan saya, bahkan jumlah likers-nya lebih dari 3.000. Pencapaian yang spektakuler :D Bagi anda yang sudah woro-wiri ke Eropa mungkin kisah ini ibarat serpihan serundeng; tipis, ringan, dan mudah berserakan. Tapi bagi saya yang selalu harus ngaku-ngaku "Dari Bojonegoro" setiap kali ditanyain orang "Asalnya dari mana mas?" kisah ini menjadi titik balik perjalanan hidup saya. Iyaa, saya hanyalah anak kampung yang sehari-harinya di sawah, main lumpur, dan  bermain layangan merupakan sebuah kemewahan bagi saya kala itu. Nama kampung saya adalah Centung, Desa Karangdayu, Kecamatan Baureno. Letaknya sekitar 30km dari Bojonegoro (sementara Bojonegoro itu letaknya sekitar 133 Km dari Juanda International Airport, Surabaya). Untuk mengangkat nama baik kampung tersebut, saya bersama anak muda sekampung sepakat untuk memberikan nama baru kepada kampung saya yaitu "Centung Rock City" Yaa kalii :) :D

Anak Centung mana suaranya????? *aaaaaaaaaaaa. Kalau saya sebutkan nama kampung saya ke orang yang bertanya, bisa dipastikan sebagian besar orang tidak akan tau, karena kampung saya belum masuk di peta. Hahhahaha

Centung

Centung Rock City, saat airnya melimpah (baca: banjir) :) :)

PERTAMA KALI NAIK PESAWAT

Perasaan dag-dig-dug, cemas dan gelisah menghampiri saya seminggu sebelum keberangkatan ke Eropa. Bukan cemas karena harus menguasai materi conference, tapi karena excited bakal naik pesawat untuk pertama kalinya dan ke Eropa pulak. Persiapan untuk naik pesawat ini menguras banyak waktu dan pikiran saya. Saya mencari-cari panduan untuk naik pesawat di internet. Tahun 2012 jaringan internet di kampung saya masih sangat parah. Setiap kali saya mengetikkan kata kunci "cara naik pesawat" di mesin pencarian (google) saya harus menunggu waktu beberapa menit supaya artikelnya terbuka. Belum juga menemukan artikel yang saya mau tiba-tiba jaringan disconnect. Maklum jaringan telkom tidak masuk dikaampung saya, yang ada cuma ngandelin modem dengan jaringan Edge :( Parahnya lagi, di google juga ga ada satu tulisanpun yang merincikan secara gamblang prosedur-prosedur naik pesawat, seolah-olah hal tersebut adalah hal yang memalukan dan GAK PENTING untuk ditulis. Padahalkan ga semua orang pernah naik pesawat. Butuh waktu 1 minggu untuk saya mengumpulkan langkah-langkah naik pesawat. Huuuh :(

Setelah perjuangan panjang dan berat akhirnya saya menyimpulkan step-step keluar negeri dan naik pesawat sebagai berikut:

Datang ke Bandara - cari counter check in sesuai maskapai yang akan kita tumpangi - Antri - Serahkan tiket, paspor ke mbak-mbak counter check in dan letakkan bagasi (koper) disebelah si mbak - si mbak akan memberikan boarding pass (jangan hilang) - jalan menuju imigrasi untuk stempel paspor - cari gate sesuai yang tertera di boarding pass - masuk ke ruang tunggu - tunggu sampai ada pengumuman penumpang pesawat X tujuan X dipersilahkan masuk ke pesawat - cari tempat duduk sesuai yang tertera di boarding pass - letakkan segala barang-barang bawaan di kabin atas - duduk dan pasang sabuk pengaman - perhatikan pramugari yang memeragakan alat keselamatan - berdoa - dan semoga selamat sampai tujuan.

Bersyukurlah karena saya menuliskan step-step tersebut secara gamblang untuk menyelematkan dek-adek yang mungkin belum pernah naik pesawat sama seperti saya.

Lega sekali rasanya berada didalam pesawat dan membayangkan saya akan terbang di awang-awang. Akhirnya saya ga perlu iri lagi dengan layangan yang bisa terbang tinggi :)

WELCOME TO ROMA

Berbekal uang 200 Euro, beberapa butir telur asin, beberapa bungkus mie instant, 3kg beras, sekantong serundeng dan seplastik tempe kering yang semuanya disusun dalam kotak rice cooker, saya melangkah pasti menuju Roma. Setelah menempuh perjalanan yang lumayan panjang, akhirnya pesawat yang saya tumpangi mendarat dengan mulus di Rome Fiumicino Airport, Italy. Sesampainya di airport saya langsung bergegas menuju deretan telpon umum yang terpampang rapi di bandara. Rencananya saya mau menelpon KBRI Roma untuk mengkonfirmasi bahwa saya sudah mendarat dan siap menuju KBRI untuk menginap. Namun karena sudah kesorean, telpon dari saya gak ada yang ngangkat, bisa jadi KBRI sudah tutup karena sudah sekitar pukul 17.00. Sebelum berangkat memang saya berencana untuk menumpang di wisma KBRI Roma, tujuanya tiada lain untuk menghemat pengeluaran selama conference berlangsung. Saya sudah mengontak staff KBRI via Kemenlu sebelumnya dan mereka mengizinkan saya untuk tinggal beberapa hari disana. Namun apa daya karena tidak ada yang mengangkat telpon, akhirnya saya putuskan untuk mencari hostel hemat ditengah kota untuk semalam. Esok paginya saya coba lagi kontak KBRI Roma untuk mengkonfirmasi apakah saya bisa nginap disana atau tidak? Salah seorang staf yang berbicara dengan saya bilang "Ok, silahkan datang." Akhirnya dengan kecepatan cahaya saya langsung melaju kencang ke KBRI :D By the way telur asin dan dus rice cooker yang saya bawa bentuknya sudah ga karuan karena ditusuk-tusuk oleh petugas bandara.

Eropa sedang winter saat itu. Cuaca dingin untuk saya si anak sawah yang selalu berlimpah matahari sungguh mengganggu. Jaket second kedodoran yang saya pakai juga tidak mampu menangkis dinginnya suhu saat itu. Malangnya lagi sesampainya di KBRI saya tidak diperkenankan untuk nginap dan disuruh mencari penginapan lain dengan alasan wisma KBRI lagi dipakai. Pfffttt :( Dasar PHP...

Jaket kedodoran vs Ransel. Kardusnya saya sembunyikan :D

Dengan langkah gontai sambil nenteng-nenteng kardus rice cooker, saya meninggalkan KBRI dan meluncur ke lokasi conference. Ini adalah hari pertama conference, saya harus datang walaupun dengan membawa peralatan tempur karena sudah tidak sempat lagi untuk mencari tempat nginap. Saya harus kuat. Ini EROPA!! INI ADALAH MIMPI SAYA!!

CONFERENCE

Akhirnya saya tiba di lokasi conference. Conference ini diikuti oleh ratusan pemuda dari seluruh dunia. Tentu saja dari semua peserta yang hadir saat itu, saya dan teman saya adalah kandidat terkuat yang paling udik. Saya melakukan registrasi ulang dan pihak penyelenggara memberikan schedule kepada kami. Saat melakukan registrasi ulang, semua mata menatap kami dengan tatapan menelanjangi. Mau ngapain dua orang ini bawa-bawa kardus?? Mungkin gitu pikiran mereka :( :(

Saya belum ada bayangan sama sekali bakal jadi apa selama 2 minggu di Eropa hanya dengan uang 200 Euro. Ditambah lagi ketakutan akan apa yang harus saya kemukakan saat debat, cilakanya lagi kemampuan bahasa Inggris saya yang kacau dan berantakan. Meski persiapan untuk naik pesawat lebih menguras tenaga daripada persiapan untuk conference itu sendiri, karena memang niat awalnya kan "cuma pengen ke Eropa" dan conference adalah embel-embelnya. *Ditoyor DIKTI*

Conference ini mengusung tema "Unemployment Youth" saya mengartikannya "Pengangguran Meresahkan" Saya dipercaya sebagai delegasi negara Filipina. Saat giliran saya mempresentasikan materi tidak satu orangpun yang bertanya atau menanggapi apa yang saya sampaikan. Ntah karena mereka ga ngerti apa yang saya sampaikan atau karena mereka takut karena sudah saya ancam terlebih dahulu "Bahasa Inggris saya jelek, saya harap kalian tidak menanyakan hal yang aneh-aneh" Untuk bagian pembukaan kalimat ini saya mengucapkannya dengan lantang dan saya ulangi berkali-kali sampai mereka speechless. Hahahha :)

Dalam ruang konferensi Kementerian Luar Negeri Italia
Biar bahasa inggris Acakadut, yang penting kelihatan meyakinkan saat difoto. haha Saya yang paling kiri.

SURVIVE 2 MINGGU DI EROPA HANYA DENGAN 200 EURO

Eropa itu negara mahal. Apalagi di Roma dan Paris. Untuk sekedar kencing saja kita harus menyiapkan 0,75 - 2 Euro. Kalau mau survive 2 minggu di Eropa hanya dengan 200 euro semua harus diperhitungkan dengan secermat-cermatnya. Biaya penginapan saya selama di Roma menghabiskan sekitar 70 Euro selama 6 malam (malam pertama dapat harga 15 euro dan 11 euro untuk malam-malam berikutnya, karena pemilik hostel kasihan melihat saya, saya diberikan diskon), 2 malam saya menginap di bandara Milan, 1 malam saya menginap di emperan bandara Paris yang dinginnya ga karuan (bandaranya tutup jam 11 malam dan jauh dari peradaban), 2 malem saya menginap di bandara Roma, sampai akhirnya di hari terakhir di Eropa saya ga punya uang sepeserpun :(

Untuk urusan makan juga saya hemat habis-habisan. Saya bawa kettle multi fungsi yang saya gunakan untuk ngerebus air, ngerebus indomie, masak nasi sampai kettlenya meledak dan seisi kamar berasap. Hahahhaha. Saya cuma sekali merasakan makan diluar. Itu juga saya bela-belain, karena penasaran dengan pizza yang katanya asalnya dari Italy. Masak iya saya uda jauh-jauh kesini tapi belum ngerasain pizza nya -___-

Jajanan saya sehari-hari adalah roti raksasa seharga 1 Euro yang kalo digigit bisa bikin gigi kita rontok karena kerasnya. Untuk menyiasatinya saya campurkan dengan rebusan mie instant. Ga peduli apapun yang saya makan yang terpenting saya kenyang dan ga minta-minta. Untuk urusan makan aja saya kesulitan, boro-boro mau beli oleh-oleh. Biar ga tragis-tragis amat saya beli 2biji gantungan kunci seharga 2 Euro dan beberapa gambar spot2 wisata yang ada di Roma.

12975469-Long-loaf-French-bread-isolated-on-the-white-background--Stock-Photo

Ini adalah tampilan roti raksasa yang saya maksud, namun kalau dari warnanya roti yang dulu biasa saya beli kualitasnya lebih jelek. Alhasil gigitanya pun keras. (Sumber foto dari google, versi aslinya udah gak nemu fotonya)

PENGANGGURAN MERESAHKAN

Perjalanan ke Eropa benar-benar membuka pikiran saya. Sekembalinya ke Indonesia, saya memutuskan untuk menjadi pengangguran meresahkan yang sesungguhnya. Sedikitpun saya ga niat lagi untuk melamar pekerjaan (saya cuma pengen melamar kamu) :) Yang ada dipikiran saya hanyalah ingin melihat dunia lebih banyak lagi (dengan kamu). Saya ga mau menghabiskan masa muda dan masa tua saya di kantor. Apapun yang terjadi saya harus keluar dari Indonesia. Saya pergi ke Kampung Inggris (Pare) untuk memperdalam bahasa Inggris. Sembari saya memperdalam bahasa inggris di Pare, saya mencari informasi beasiswa dari seluruh penjuru dunia. Saya coba masukkan permohonan beasiswa saya kemana saja, ke Turki, Belanda, Beijing, Wina, Milan, dll. Akhirnya yang pertama sekali menjawab aplikasi beasiswa saya adalah pemerintah China dan tentu saja saya menyambut tawaran tersebut.

Untuk memenuhi kebutuhan saya sehari-hari serta biaya program belajar bahasa inggris selama di Kampung Inggris Pare, saya membuat sebuah Travel Online yang masih beroperasi sampai sekarang. Klik disini

Semua ini saya lakukan diam-diam, tanpa sepengetahuan orang tua ataupun teman-teman saya. Tidak jarang saya diomelin orang tua "Kamu itu mau jadi apa sih? Kerja nggak, kuliah nggak. Kalau ga mau kerja, lanjut kuliahlah. Ibu biayain. Jangan ga jelas gini" Teman-teman saya juga nasehatnya kurang lebih sama "Rendy, rendy kamu koq dirumah terus? Yaaaa mbok cari kerja lah. Mau jadi apa kamu?"

Padahal waktu itu saya lagi sibuk-sibuknya menyiapkan segala sesuatu untuk keberangkatan saya melanjutkan kuliah di Beijing :) Dan kini adalah tahun ketiga saya berada di Beijing (harus lulus tahun ini atau saya bakal di DO). Hahhahaha. Rendy Si Anak Sawah Centung Rock City dan pengejar layangan ini akhirnya pelan-pelan sudah melihat hampir setengah dunia. Saya sudah traveling ke 5 benua dan lebih dari 45 negara.

Ga ada yang perlu saya banggakan atau sombongkan. Semuanya hanya karena nikmat yang telah DIA berikan yang telah mengabulkan doa, kerja  keras, restu orang tua dan tentunya impian-impian saya yang nyeleneh. Seperti yang telah DIA firmankan dalam surat Ar-Rahman yang maknanya sangat fenomenal berikut: "Fa-biayyi alaa'i Rabbi kuma tukadzdzi ban (Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?)". Diatas semuanya saya masihlah anak kampung yang medok, harus tetap ke sawah setiap kali pulang kampung dan tetap penggemar nasi pecel garis keras.

"BERMIMPILAH MAKA TUHAN AKAN MEMELUK MIMPI-MIMPIMU DAN SEMESTA AKAN MEMBANTUMU MEWUJUDKANNYA"

Salt Lake City, Utah, US.

Salt Lake City, Utah, USA.

Label
|
loading